Tujuh Langkah Membangun Komunitas


komunitasKEKUATAN TEAM, dan THE MAN OF ACTION

Langkah Pertama: Kekuatan niat

Bangunan pertama dalam setiap langkah dan pilihan tindakan yang kita tempuh adalah niat yang tulus dan hati yang suci (KH Dahlan) sehingga dalam setiap tindakan dan niat yang mendorong tidak memberikan ruang-ruang yang terkontaminasi oleh negatifisme sehingga akan rapuh dalam perjalanannaya. Salah satu cara untuk menghindar dari kejahatan niat buruk adalah meyakini dengan benar bahwa hidup adalah ladang menanam kebaikan, hidup adalah berkelompok saling menolong, simbiosis mutualisme sebagai makhluk soSial, makhluk berbudaya, di sisi lain sebagai pemimpin di bumi yang tentu dari sana kita berkeinginan kuat menjadi muslim yang kuat menjadi pribadi mulia yang bermanfaat bagi orang lain. “sesungguhnya segala sesuatu dinilai dari niatnya”. Bukankah begitu ?

Langkah Kedua: Kekuatan Aksi

KHA Dahlan dikenal dengan sebutan the man of action, artinya tindakan itu menjadi sangat penting dan bukan hanya hafalan, pemahaman sebagaimana kisah dengan santrinya mengenai ajaran surat al-maun yang tidak hanya dihafal di luar kepala tanpa tindakan yang menunjangnya. Dari sinilah kemudian muncul ungkapan banyak bekerja sidikit bicara yang sekarang jadi iklan rokok: talk less, do more. Kira-kira begitu kemudian kita juga bisa mengambil pelajaran darinya untuk mengelola lembaga yang sekarang mulai kita fikirkan dan berdayakan ini. Lapsi kemudian menjadi tempat berkumpul anak muda yang tidak akan tinggal diam dan berpangku tangan.

Dalam waktu yang dekat, kita bisa mengadakan kegiatan polling pemilu pemila yang ditentukan respondennya dan ini menjadi responden tetap dalam polling berikutnya. Kita juga memanfaatkan gedung ruang yang ada, ada perpsutakaan yang cukup nyaman di PP Cikditiro untuk diskusi dan kajian. Agar kita responsive dan menjadi kekuatan baru the man of action yang lama sudah tidak dijadikan referensi.

Langkah Ketiga: kekuatan berfikir

Cara berfikir kritis mempunyai banyak kelebihan, tapi salah satu kelemahannya adalah paradigma berfikir kritis diniali akan menggempur sikap optimisme dan positif thingking akan satu hal sehingga memang berpotensi konflik. Tapi cara berfikir kritis perlu dalam melihat realitas social yang tidak tunggal dan seragam. Namun jangan sampai terlalu kritis lalu melihat banyak hal dengan optimis, curiga, dan akhirnya tidak produktif dan tida terukur. Perlu menggalakkan: positif thingking, feeling and action. Agar selalu optimis dan visioner.

Langkah Keempat: Kekuatan menjalin komunikasi

Tekhnologi memungkinka orang untuk menghilangkan sekat ruang dan waktu, silaturahmi kini berpindah haluan dalam konsep jejaring sosial via media internet yang cukup massif 3 tahun terakhir ini. Bahkan dalam satu ruang saja kita bisa berkomunikasi tanpa harus bertatap muka secara fisik. Meski ini banyak kelemahan namun bisa juga dijadikan alternative untuk mengatakan kurang ada komunikasi. Ke depan lembaga apa pun tentu harusnya memanfaatkan tekhnologi, jika mau efektif dan efesien. Melek huruf sedang berkembang di pedalaman, dan diper kotaan terjadi gelombang pentingnya melek media dan melek internet.

Langkah Kelima: Kekuatan ESQ

Saya kira kekuatan ESQ sudah banyak dibaca dan dipercayai sebagai jawaban bahwa antara hati-fikiran-dan perbuatan itu adalah satu kesatuan, setali tiga uang untuk mengatakan bahwa agama dan perasaan menjadi penting dalam menyemai relasi social, relasi bisnis dan organisasional atau hubungan antar personal dan lembaga. Jika konsep ESQ dikuasasi maka konflik akan berkurang, dan jika hidup dalam damai dan penuh suka cita maka produktifitas kerja samakin tinggi. Kira-kira begitu teori ESQ mengajarkan. Mari kita buktikan kebenaran hal itu? Saatnya fikiran, hati, dan tindaka kita damaikan dan saling menguntungkan!

Langkah Keenam: Kekuatan Kreatifitas dan aktualisasi

Lembaga ini sejak awal harus disepakati bahwa dalam lembaga ini harus memberikan kemungkinan kesempatan untuk semua orang, mengembangkan potensinya, mengalami aktualisasi dan mendapatkan apresiasi dari sesama anggota atau tim dalam lembaga. Tanpa itu semua akan terjadi strukturasi atasa bawahan, jangan sampai ini terjadi, struktur itu harusnya memudahkan dan bukannya malah menghalangi untuk mengembangkan kreatifitas dan aktualisasi diri. Mencoba membiasakan cara berfikir yang menang-menang (win win solution) dan bukanya menang versus kalah.

Langkah Ketujuh: Kekuatan Kelompok

Lembaga sama dengan komunitas, sama dengan organ tubuh, saling menguatkan dan jika sakit berbagi rasa “tidak nyaman” atau rasa nyeri. Dengan demikian kita sedang mencoba seberapa besar kekuatan kita jika berkelompok dengan mimpi yang serupa untuk kemajuan dan kebaikan. Jika kita di rumah atau di kost-kost-an kita hanya bisa melakuan aktivitas pribadi dengan dimensi yang sangat terbatas dan sekarang, hari ini kita berkumpul di suatu komunitas dan kita bisa melakukan hal-hal yang luar biasa, mampu menembuas egoisme dan prasangka serta bisa melakukan kegiatan yang multi dimensi dan menembus batas ruang dan waktu…sampai jauh kita melangkah dan saling menopang satu sama lainnya.

David Efendi,SIP

Kaki Merapi

The eagle flies alone part2

Yogyakarta, 23 Maret 2009

Sumber : http://lapsippipm.wordpress.com/category/sekolahan-rakyat/komunitas-kreatif/

Politik, Pendidikan dan Partisipasi Pelajar



Tema pendidikan senantiasa menarik untuk selalu diperbincangkan dalam konteks pembangunan sebuah bangsa. Hal ini disebabkan karena besarnya kontribusi pendidikan dalam ranah masyarakat itu sendiri. Pendidikan menjadi penting sebagai wahana transformasi sosial. Dalam konteks ini, maka masyarakat (termasuk remaja/pelajar) memegang peranan penting untuk menentukan kehidupan sosial dimasa yang akan datang.

Karena itulah, maka kehadiran pendidikan sangat dinanti oleh publik. Sayangnya pendidikan kita masih saja mengalami problem yang cukup serius. Dan yang tidak kala pentingnya adalah akses publik untuk menikmati pendidikan mengalami bias. Sekolah semakin tidak terakses disebabkan kebijakan pendidikan yang meliberalisasi sekolah. Sehingga sekolah ditentukan oleh mekanisme pasar yang berlaku. Dengan alasan yang cukup sederhana “pendidikan memang mahal bung”.

Itulah mengapa kondisi pendidikan nasional makin buruk yang ditandai oleh rendahnya sumber daya manusia. Human development index (HDI) 2004 yang dikeluarkan oleh UNDP bisa dijadikan gambaran bagaimana posisi Indonesia yang berada dalam angka 111 lebih rendah dibanding tahun 2002 yang berada diperingkat 110.

Dengan angka demikian, maka pertanyaan yang harus dilontarkan adalah, masihkah ada harapan buat bangsa ini? Sebagai orang beragama, kita tentunya harus senantiasa menggantungkan optimisme kita. Karena dengan obsesi dan optimisme itulah kita dapat bergerak maju melangkahkan ayunan gerakan kita.

Kini timbul pertanyaan lagi, haruskah dimulai dari mana gerakan itu? Ada baiknya kita memulai gerakan itu dari hal-hal kecil yang mungkin dapat dilakukan. Misalnya bagaimana seorang pelajar untuk senantiasa menginprove dirinya dengan berbagai informasi dan hal-hal baru, sedemikian sehingga mampu meningkatkan kapasistasnya secara pribadi. Dengan demikian diharapakan tumbuhnya kesadaran.

Tetapi itu tidaklah serta merta menyelesaikan persoalan secara tuntas. Harus ada gerakan bersama dari seluruh pemangku kepentingan untuk bergerak memberikan penyadaran (publik awareness) terhadap masyarakat tentang bagaimana hak-hak mereka sebagai warga negara untuk memperoleh akses pendidikan “murah” dan berkualitas. Langkah ini sangat penting mengingat politik pendidikan kita masih sangat bias terhadap kepentingan itu.

Setidaknya ada dua hak pendidikan bagi anak Indonesia. Pertama, hak untuk diperlakukan secara manusiawi sebagai insan merdeka dalam konteks ini lebih kepada bagaimana relasi pelajar dengan guru dalam proses belajar mengajar. Yaitu bagaimana menempatkan pelajar sebagai manusia otonom yang memiliki kemampuan yang relatif sama sebagai insan ciptaan Tuhan.

Pola relasi sekolah dengan pemerintah yang sedikit banyaknya dipengaruhi juga oleh model kepemimpinan patrimonial yang dianut sebagian penguasa, membawa akibat bagi inisiatif guru serta perlakuan guru murid.

Kedua, hak untuk memperoleh pendidikan yang layak dan beradab. Yaitu lebih kepada bagaimana kebijakan pendidikan. Kita tahu bersama bahwa tugas utama pemerintah adalah bagaimana dia berkhidmat kepada masyarakat. Dalam artian bagaimana pemerintah memberikan layanan publik yang baik terhadap rakyatnya. Termasuk adalah bagaimana menyediakan peluang pendidikan yang layak dan beradab secara luas dan merata, serta dapat diakses secara mudah oleh kelompok masyarakat apa pun (Tuhuleley, 2005).

Hak ini dijamin oleh Undang-Undang nomor 20 tahun 2003, yang menyatakan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi.

Menurut Freire masalah pendidikan tidak mungkin dilepaskan dari masalah sosio-politik, karena bagaimanapun kebijakan politik sangat menentukan arah pembinaan dan pengembangan pendidikan. Maka dalam konteks demokratisasi dan desentralisasi di Indonesia dimana peran politik (eksekutif dan legislatif) begitu besar. Maka, bagaimana ranah politik mampu menjadi wahana bagi espektasi publik akan sebuah sistem pendidikan yang mencerahkan.

Oleh karena itu, tugas terbesar kaum muda dan gerakan pelajar lainnya adalah bagaimana membuktikan kepada dunia bahwa pelajar juga bisa berbuat nyata untuk masyarakatnya. Untuk itu, maka gerakan pelajar harus menggiatkan kampanye dan propaganda kepada publik bahwa mereka memiliki hak-hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan bermutu.

Pada akhirnya kesadaran publik terhadap pendidikan yang bermutu akan mengantarkan warga (remaja/pelajar) pada hak untuk merumuskan apa defenisi pendidikan yang bermutu itu sendiri. Disini meniscayakan adanya partisipasi dari kaum terpelajar untuk senantiasa ikut memperjuangkan politik pendidikan lewat proses-proses yang demokratis. Misalnya gerakan pelajar ikut hearing dengan lembaga legislatif dalam perumusan anggaran daerah untuk sektor pendidikan. Sehingga dalam ranah ini, pelajar tidak sekedar menjadi pelengkap penderita dari suatu bangsa, tetapi mampu hadir dan melaksanakan amanat sosialnya, amanat sebagai khalifah dimuka bumi ini. Wallahu A’lam Bissawab.

Masmulyadi
Aktifis Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah

Seni Ke-fasilitator-an


”…Good is not enough if better possible (terj)” Mario Teguh Golden Way

Sulit mencari padanan kata yang pas, penulis jadi mengambil kata yang aslinya untuk menjelaskan kalimat Seni Memfasilitasi (the Art of Fasilitation) sebagai aktivitas yang sangat popular sepuluh tahun terakhir ini seiring faham humanisme yang manusiawi. (Paulo Friere dengan penolakan pendidikan “gaya bank”). Mengapa demikian? Mengapa perlu fasilitator dan bukan lagi instruktur atau system komando dalam sebuah aktifitas pembelajaran kekinian. Tentu ini inovasi yang efektif dan harapan hasil yang lebih baik. Kenyataanya metode ini jauh lebih cocok dari pada sistem yang terlalu menonjolkan pendidikan satu arah, ketat dan menindas. Ada beberapa alasan mengapa terminologi fasilitator lebih laku pasca munculnya ide dan kebebasan berekspresi di Indonesia termasuk di organisasi dakwah/agama seperti IPM. Pertama, memang banyak konflik yang tidak selalu bisa diselesaikan dengan tindakan kekerasan sehingga butuh medium atau seoarang fasilitator untuk membantu memecahkan masalah yang ada. Kedua, munculnya proses pembelajaran yang “memanusiakan manusia” sebagai tindakan yang kritis dan lebih bersahabat. Secara sederhana memfasilitasi itu merupakan seni mengelola sumberdaya manusia dengan cara yang beragam akan tetapi tidak merendahkan derajat manusia bahkan lebih menimbulkan kreatifitas. Bagaimana penjelasannya silakan dibaca berikutnya.

Dalam seni memfasilitasi dibutuhkan kecerdasan yang multiintelegsia, mampu mengelaborasikan antara idealisme dengan realitas, antara egoisme dan solidaritas dan sebagainya. Keahlian ini harus dimiliki oleh seorang fasilitator (yang memfasilitasi) dalam sebuah proses belajar. Ada beberapa fungsi utama seorang fasiliatator. Pertama, memberikan semangat atau menggairahkan peserta/warga belajar. Serorang fasilitator harus mengetahu dengan siapa berhadapan dan gaya komunikasi dan bahasa apa yang cocok untuk konteks ini. Ketika berhadapan dengan temen-temen SMA jangan menggunakan bahasa yang terlalu tinggi misalnya atau jangan memakai kisah yang sangat jadul yang tidak menarik. Kedua, mampu menjembatani beberapa gagasan menjadi satu kesatuan yang sistemik untuk dijadikan pemahaman bersama. Disini seorang fasilitatartor harus bijak dalam mengelola konflik ide dan gagasan dalam kelas. Disinilah dibutuhkan cara berfikir yang mederat, menghargai pendapat dan mengajak berfikir logis dan rasional. Ketiga, mampu memberikan isnpirasi bagi peserta belajar akan cara pandang tertentu. Tigas yang paling penting seorang fasilitator adalah menginspirasi, memberikan kail dan bukan ikan kepada peserta sehingga peserta muncul kreatifitas. Seorang fasilitator tidak dibenarkan menjadi penguasa, menjadi sumber yang memonopoli kebenaran. Kebijakan fasiliator dan kemampuan membuat ilustrasi adalah kekayaan yang paling dicari oleh peserta warga belajar. Keempat, memberikan tawaran cara berfikir yang alternative dalam memecahkan atau melihat sebuah permasalahan. Sesekali memang perlu, peserta dikenalkan dengan cara berfikir yang baru yang keluar dari meantream (umumnya) misalnya untuk menjawab pertanyaan: mengapa murid tidak lulus ujian nasional? Pada umumnya akan menjawab karena malas. Maka seorang fasilitator bisa mengajark peserta untuk menganilisis lebih detail. Misalnya melihat faktor keluarga, faktor ekonomi, system pembelajaran, metode guru mengajar, dan juga melihat fasilitas buku yang terbatas. Hal ini dimaksudkan agar tumbuh cara berfikir yang komprehensif, mempertimbangkan faktor lain yang saling terkait. Ini tida lain, tidak bukan adalah metode berfikir kritis ala anak IPM.

Kemampuan memfasilitasi dengan menggunakan berbagai seni komunikasi secara emosional memberikan sentuhan yang cukup kuat antar personal atau antar warga belajar dalam sebuah pelatihan. Ada pun kegunaan praktis di masyarakat atau dilingkungan sehari-hari misalnya untuk aktivitas belajar dalam komunitas, biasanya dapat memudahlan menyelesaikan konflik antar teman, pembelaan teman sebaya, memediasi pertengkaran antar kelompok, dan dalam skup yang lebih luas ketangguhan dalam seni fasilitatir akan mempermudah mengelola konflik secara damai dan menghasilkan apa yang disebut win-win solution. Semua menang dan bukannya menang-kalah. Karena dalam seni memfasilitasi ini akan dihasilkan mental yang positif, tidak merasa ada yang kalah dan yang merasa menang pun secara rendah hati membawa kelompok atau sahabat lain untuk saling mendapatkan manfaat. Konsep ini adalah tumbuh dan berkembang bersama. Partsipasi dan kreatifitas jauh dihargai dan saling memberikan motivasi dan pengetahuan antar pembelajar. Karena itu tida terjadi menang jadi arang, kalah jadi abu. Wallahu a’lam bisshowab.

Pemuda dan bangsa

Pemuda Harapan Bangsa

80 tahun yang lalu tepat pada tanggal 28 Oktober [hari ini], dengan semangat yang bergejolak didada dan sanubari Pemuda Bangsa Indonesia (All ethnic) menyerukan kebersatuan, kebersamaan, keberkawanan, kesamaan nasip, satu tujuan yaitu menuju Indonesia Merdeka, Damai, Adil, Makmur dan Dihormati.

bungtomo.jpg

Para pemuda bersatu karena kesamaan nasib dan tujuan, tidak di Indonesia di belanhan dunia juga demikian baik di Revolusi Prancis, Revolusi Amerika maupun di China, demi untuk melaksanakan apa yang dicita-citakan mereka rela berkorban harta benda, tenaga bahkan nyawa sekalipun.

mari kita tengok kebelakang sekitar 30 tahun silam… sekitar 50 tahun setelah dimana pemuda Indonesia dengan semangat besar untuk bersatu demi melaksanakan cita-cita mulia bangsa, jauh…. jauh sudah pemuda kita melupakan semangat itu, rasa ke AKU-an mulai merengsek bersarang di dada masing-masing pemuda, terkikisnya rasa peduli akan sesama, hilangnya rasa keterikatan, tak mampunya membendung budaya luar yang jelas-jelas berbeda dari akar budaya kita.

Tidak sedikit dari Penerus bangsa ini yang memiliki talenta yang membanggakan, tidak sedikit dari pemuda yang skill nya diatas skill bangsa eropa lainnya…, tapi mereka lebih merasa nyaman hidup dinegara yang menjamin segala kemapanan hidupnya, “…. untuk apa kita berjuang dinegeri sendiri jika kita disana tidak dihargai dan akhirnya kita kan mati juga karena keadaan itu” itu lah jawaban dari mereka… tapi coba kita pelajari dengan semangat Sumpah Pemuda 80 tahun silam.., apakah mereka berjuang untuk kehidupan yang lebih baik, dari ketertindasan itu langsung merasakan kehidupan yang enak-enak, nyaman, tentram… jawab nya TIDAK, tapi mengapa mereka melakukannya dan bisa.. jawabnya karena mereka mencintai Negara dan Tanah Kelahiran nya.

sebagai renungan di hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2008 ini, perjuangan kita bukan dengan senjata bukan secara begerilya, menghancurkan pertahan musuh, tetapi perjuangan kita adalah memerangi perasaan tamak akan apa yang kita miliki dan rasakan [kesenangannya], karena jika kita sudah merasa nyaman dengan keberhasilan kita sendiri maka kita beransur-angsur akan melupakan saudara kita, saudara kita tidak mengemis untuk kita kasihi, untuk kita santuni, tetapi dengan rasa persaudaraan mari kita bersatu untuk menuju keadilan dan kesejahteraan.

IPM Temanggung adakan TM2

Pdscn4678ada tanggal 28-31 Desember yang lalu PD IPM temangung mengadakan taruna melati 2 yang bertempat di desa tempuran kec. kaloran. Situasi dan kondisi lingkungan desa yang jauh dari perkotaan menjadikan suasana tersendiri dalam kegiatan ini. dari 60 peserta yang ditargetkan alhamdulilillah 59 peserta bisa mengikuti kegiatan tersebut. Tema TM2 yang diusung oleh panita adalah berjudul ” manifestasi pelajar muhammadiyah yang berkemajuan”. Tema ini sengaja diangkat agar IPM untuk tidak henti-hentinya melakukan pengkaderan dan menginfestaikan kader ipm agar selalu ada di sepanjang zaman. Kegiatan taruna melati 2 ini juga lebih banyak mengedepankan aspek pengembangan dan eksplorasi bakat dan kemampuan yang ada pada peserta. Kegiatan mencari informasi tentang muhammadiyah di desa tersebut menjadi kopetensi peserta untuk bisa berwawancara secara face to face dengan tokoh muhammadiyah disana. Lingkungan masyarakat yang mendukung kegiatan ini menjadikan TM2 ini terasa enjoi dan penuh banyak kenagan. Dalam rangka memonitoring eksestensi dari para peserta maka kami akan berusaha untuk memfollow up setelah TM 2 ini.

Pemuda dan Indonesia

Yang Muda yang Harus Dipercaya! PDF Print E-mail
Monday, 26 February 2007 21:11

Sample image

Judul tulisan ini tentu bertolak belakang dengan iklan sebuah rokok yang pernah penulis jumpai di salah satu sudut papan iklan: “Yang muda yang nggak dipercaya”. Di iklan teve digambarkan, saat seorang gadis muda menyampaikan pesan di dalam bis, semua penumpangnya pura-pura tidur. Namun ketika orang tua yang menyampaikan, semua penumpang bangun dan mendengarkannya. Walaupun suara itu suara si gadis tersebut.

Iklan tersebut tentu tidak sekadar menyampaikan pesan lucu. Iklan tersebut telah mengungkap sebuah realita, golongan muda masih belum dipercaya oleh siapa saja, terutama para birokrat kita. Maklum, kita telah berada di bawah rezim Soeharto selama 32 tahun. Selama tiga dekade itu pula, banyak potensi anak bangsa yang diendapkan hingga meletus dan saling berebut ”kursi kekuasaan” setelah rezim berganti menjadi reformasi.

Kalau kita mau menengok ke belakang, Soekarno saat menjadi presiden berumur 43 tahun. Soeharto memimpin gerilya ke Yogyakarta ketika menginjak usia 26 tahun. Namun lambat laun, kok umur pemimpin kita saat mereka menjabat pertama kali sebagai presiden malah di atas 50 tahun.

Yang menjadi persoalan memang bukan tua atau muda. Seolah yang muda lebih produktif dari yang tua. Titik persoalannya adalah pemimpin kita yang muncul ke permukaan hanya orang-orang itu saja. ”Elo lagi, elo lagi”. Kita bisa lihat sederet nama capres di pemilu 2009 nanti yang sudah mendeklarasikan diri: Megawati, Sutiyoso, Prabowo, Jusuf Kalla, SBY, Sri Sultan Hamengkubuwono X, Wiranto, dan lain sebagainya. Mereka semua adalah bekas capres yang gagal di pemilu 2004 lalu.

Kita tahu siapa mereka dan bagaimana kebijakan mereka untuk rakyat. Tidak ada keberpihakan terhadap sama sekali. Kenaikan harga BBM dan bahan pokok lainnya telah menjadi bukti, apapun alasannya. Kita tetap saja miskin dan bertambah miskin. Sehingga keluarlah celoteh ”Siapapun presidennya, kita toh tetap begini,” ungkap seorang tukang becak. Data golput hingga 40 persen di pilkada Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadi bukti, rakyat sudah tidak percaya pada para pemimpin! Ke depan, jika anda ingin menang, maka penulis sarankan untuk membentuk partai yang bernama PGI alias Partai Golput Indonesia. He-eh!

Hanya satu yang patut kita ucapkan kepada sederet nama di atas: Cukup sampai di sini saja, Bung! Coret nama-nama itu dari pikiran kita. Ambil langkah dan buktikan anak muda mampu memimpin negeri ini. Kita pasti ingat, Budi Oetomo yang lahir 1908, Sumpah Pemuda yang lahir 1928, kemerdekaan RI yang lahir 1945, dan tumbangnya rezim orde baru tahun 1998. Momen-momen tersebut telah membuktikan bahwa anak mudalah yang telah mengukir sejarah republik ini.

Kita kembalikan kepercayaan itu pada kaum muda yang memiliki jiwa pemberani, tidak takut akan resiko yang terjadi setelahnya, tidak memiliki beban sejarah terhadap pihak lain (baik dalam negeri maupun pihak asing), dan memiliki wawasan yang luas. Walaupun yang tua bisa melakukan itu, tapi seolah berlaku bijak. Walaupun sebenarnya sok bijak.

Telah lama rasanya, negeri ini merindukan detik-detik seperti sumpah pemuda. Kini saatnya kerinduan itu kita wujudkan untuk mengambil alih kepemimpinan negeri ini di tangan anak muda. Saatnya yang muda yang harus dipercaya!

PP IPM 2008-2010

IRM Resmi Menjadi IPM, Deny WK Ketua Umum Terpilih

images

Surakarta – Ketukan Palu Sidang Pleno terakhir Muktamar Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM)  Selasa (28/10/2008) secara resmi menetapkan perubahan nama Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) menjadi Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM).

Ketukan Palu Hadisra, Presidium Sidang dari Sulawesi Selatan, dalam sidang pleno yang berlangsung di Aula Asrama Haji Donohudan ini juga menetapkan Deny Wahyudi Kurniawan sebagai Ketua Umum  Pimpinan Pusat IPM dengan Sekretaris Jendral  Andy R. Wijaya.

Proses pemilihan yang sempat memundurkan rangkaian acara ini didahului dengan terpilihnya sembilan formatur  yang terdiri dari Andy R. Wijaya dengan 331 suara, Deny Wahyudi Kurniawan dengan 303 suara, Diyah Puspitarini dengan 282 suara, Machendra Setyo Atmojo dengan 262 suara, Nurjannah Seliani Sandiah dengan 225 suara, Virgo Sulianto Gohardi dengan 222 suara, Eka Damayanti dengan 211 suara, Aris Iskandar dengan 197 suara dan Zulfikar Ahmad dengan 188 suara. Menurut ketua Panitia Pemilihan, Masmulyadi, kepada muhammadiyah.or.id, sembilan formatur itu dipilih dari hasil putaran pertama sebanyak 27 kandidat, yang sebelumnya disaring dari 38 kandidat.

Penentuan Ketua Umum dan Sekretaris Jendral yang ditentukan oleh sidang tim formatur berlangsung lancar dan cukup singkat. Pukul 18: 15 WIB acara prosesi penutupan Muktamar oleh Ketua PP Muhammadiyah Dr. Haedar Nashir bisa dilakukan. Resmi mulai tanggal 28 Oktober 2008 ini IRM berubah menjadi IPM. Panggilan kaderpun resmi berubah menjadi  Ipmawan dan Ipmawati. “IPM Berjaya !! “ demikian akhir pekik kader-kader IPM se Indonesia di akhir mars yang dinyanyikan petang itu. (Arif)

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.